Teknologi Budidaya Jagung Provitas Tinggi

0
45

Pengembangan jagung provitas tinggi saat ini dimungkinkan mengingat banyaknya jagung hibrida yang telah tersedia di pasaran. Wilayah yang potensial untuk pengembangan jagung provitas tinggi adalah Jatim, Jateng, Sulsel, Lampung, Jabar dan NTB. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah merakit paket teknologi produksi jagung provitas tinggi yang dapat meningkatkan produksi > 10 t/ha.

Varietas Unggul

Pemilihan varietas unggul merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan budidaya jagung di lahan sawah tadah hujan. Varietas yang ditanam sebaiknya jenis hibrida dengan potensi hasil tinggi serta dapat beradaptasi pada kondisi lahan. Penggunaan varietas yang sesuai dan disertai dengan teknik  budidaya yang tepat, akan memdapatkan produktifitas yang tinggi (> 11t/ha). Varietas berdaya hasil tinggi dan umur genjah-sedang seperti NASA 29, HJ 21 Agritan, HJ 22 Agritan, dan JH 36.

Benih Bermutu

Agar diperoleh produksi yang tinggi pilihlah benih yang baik, mengkilap, tidak keriput, sehat dan tidak tercampur kotoran atau varietas lain. Daya tumbuh benih minimal 90%. Kebutuhan benih per hektar berkisar antara 15-20 kg.  Untuk mencegah serangan penyakit bulai diperlukan perlakuan benih, yaitu 1 kg benih dicampur dengan 2 gr ridomil atau saromil yang dilarutkan dalam 7,5-10 ml air.

Penyiapan Lahan dan Penanaman

Sebelum penanaman, tanah hendaknya diolah sedalam 15 – 20 cm untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase, mendorong aktivitas mikroba tanah sekaligus mematikan gulma. Pada tanah gembur/ringan sistim tanpa olah tanah (TOT) juga dapat diterapkan. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5 cm. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 75 cm x 20 cm untuk 1 tanaman per lubang atau 75 cm x 40 cm untuk 2 tanaman per lubang. Setelah benih ditanam, sebaiknya ditutup dengan pupuk kandang atau tanah.

Pemupukan dan Penyiangan

Hara yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, dimulai dari pertumbuhan vegetatif sampai dengan keluar malai. Untuk mendukung kegiatan fotosintesis agar hasil panen tinggi, diperlukan pemupukan yang tepat waktu. Takaran pupuk yang dianjurkan adalah ± 250 kg urea/ha + ponska 300 kg/ha.  Pupuk diberikan 2 kali, pertama: 7 – 10 hari setelah tanam  dengan dosis 300 kg ponska/ha;  dan kedua: 30 – 35 hari setelah tanam dengan dosis 250 kg urea/ha. Pupuk diberikan dalam lubang/larikan + 10 cm di samping  tanaman dan ditutup dengan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali; pertama pada umur 15 hari setelah tanam (hst) dan kedua pada umur 28-30 hst sebelum pemupukan kedua.

Pengairan

Jagung membutuhkan air yang cukup untuk mendukung proses fotosintesis sehingga pengisian biji menjadi optimal. Khusus pada pertanaman musim kemarau atau saat tidak ada hujan, disarankan untuk mengairi tanaman pada saat sebelum tanam, 15 hst, 30 hst, 45 hst, 60 hst, dan 75 hst (6 kali pemberian).  Sumber air dapat berupa irigasi permukaan atau air tanah dangkal (sumur) dengan pemompaan.

Pengendalian Hama Penyakit

Salah satu kunci sukses budidaya jagung adalah terbebasnya pertanaman dari serangan hama/ penyakit. Penyakit utama jagung adalah bulai. Selain perlakuan benih, penyakit bulai juga dapat dicegah dengan perbaikan sanitasi lingkungan pertanaman karena jenis rumput-rumputan dapat menjadi inang bulai. Rotasi tanaman dengan tanaman selain jagung juga dapat dilakukan untuk memutus inokulum bulai. Adapun hama utama jagung adalah penggerek batang yang dapat dikendalikan dengan pemberian insektisida Carbofuran (Furadan 3G) melalui pucuk tanaman (3-4 butir/tanaman).

Panen 

Jagung dapat dipanen ketika kelobot sudah mengering dan berwarna coklat muda, biji mengkilap, dan apabila ditekan dengan kuku tidak membekas. Umur panen bervariasi antara 80-105 hst. Setelah panen diperlukan pengeringan yang cukup sebelum jagung dipipil agar biji tidak retak/pecah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here