Bulan Agustus-September merupakan puncak dari musim paceklik/kering tahun ini. Minimnya curah hujan membuat para petani, terutama yang wilayah tadah hujan tak bisa menanam jagung. Hal ini menjadi tantangan bagi Kementerian Pertanian khususnya Balai Penelitian Tanaman Serealia untuk menghasilkan inovasi teknologi yang sesuai pada musim kering. Balai Penelitian Tanaman Serealia bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara melakukan terobosan dengan melaksanakan penanaman demplot jagung hibrida pada puncak titik kritis paceklik pada awal Agustus 2018 di Desa Baku-Baku Kecamatan Malangke Barat Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan.

Kegiatan panen raya dan temu lapang yang dilaksanakan pada hari Minggu (25/11-2018) menjadi bukti bahwa musim bukanlah kendala untuk terus menanam jagung. Menurut Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia, Dr. Muhammad Azrai kegiatan demplot jagung hibrida yang dilaksanakan pada lahan seluas 30 ha di Kab. Luwu Utara tergolong berhasil mengingat saat penanaman dilakukan di luar musim tanam yang semestinya, saat itu memasuki musim kemarau dan ketersediaan air yang sangat terbatas, sehingga dikhwatirkan pertumbuhannya tidak optimal. Namun demikian, kami bangga dengan upaya yang dilakukan, panen raya pada 25 Nopember 2018 menghasilkan produksi 11,5 ton per hektar, ungkap Muhammad Azrai.

Kabupaten Luwu Utara merupakan salah satu sentra produksi jagung di Sulawesi Selatan. Bahkan yang sangat menggembirakan, Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani menaruh perhatian yang sangat besar terhadap upaya penerapan teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas lahan jagung. Indah menyatakan bahwa produktivitas yang dicapai jagung JH 45 sebesar  11,5 ton per hektar jauh diatas rata-rata produktivitas kabupaten yang nilainya di bawah 5,5 ton per ha. Saat ini, meski musim kemarau, perkiraan panen jagung sangat menggembirakan petani karena harga jagung relatif tinggi, mencapai Rp 4.600/kg jagung pipilan kering. Hal ini jauh diatas harga acuan pemerintah yaitu Rp 3.150/kg jagung pipilan kering sebagaimana diatur dalam Permendag 96/2018.

Lebih lanjut Indah yang didampingi Kepala Dinas Pertanian Kab. Luwu Utara Ir Agussalim Lambong menyatakan bahwa dengan capaian ini, kinerja produksi jagung pada 2018 akan lebih tinggi dibanding tahun 2017. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara  berterima kasih dan mengapresiasi Kementan yang telah mendukung pembangunan pertanian melalui sejumlah program unggulan di Kab Luwu Utara seperti Upsus jagung serta bantuan sarana dan prasarana pendukung. “Luwu Utara akan dijadikan ikon Sentra Produksi Jagung Baru di Provinsi Sulawesi Selatan dan akan menjadi salah program unggulan daerah untuk meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat”, kata Indah menambahkan.

Senada dengan Bupati Luwu Utara, Muhammad Azrai dalam sambutannya mengungkapkan peluang peningkatan produktivitas jagung di Luwu Utara karena  varietas jagung hibrida JH 45 memilliki beragam keunggulan diantaranya mampu menghasilkan sampai 13,0 ton per hektar (potensi hasil), perakaran tanaman sangat baik sehingga tahan rebah, bentuk tongkol besar, kelobot menutup dengan sempurna serta tahan terhadap penyakit jagung utama.  “Dengan ditemukan dan dilepaskannya varietas ini ke pasaran, saya berharap ketergantungan terhadap benih impor semakin berkurang dan dapat diisi oleh benih varietas nasional,” kata Azrai.

 

Kehadiran jagung hibrida baru tentu saja di sambut hangat oleh petani termasuk petani kooperator dalam kegiatan demplot. Ramli, ketua Kelompok Tani di Desa Baku Baku menyatakan bahwa kehadiran benih jagung baru tersebut akan meningkatkan motivasi petani untuk menanam jagung demi menjaga suplai tersedia setiap saat. “JH 45 mempunyai penampilan tongkol yang besar serta warna biji kuning kemerahan sehingga disenangi oleh pengusaha ternak unggas untuk produksi telur yang berkualitas” sambung Ramli.

Penanggungjawab program Mandiri Benih Jagung, Ir Bahtiar MS dalam wawancara dengan media menyatakan Kerjasama akan diperluas pada luasan yang lebih besar dengan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat dalam pelaksanaannya. saat ini telah dilakukan perbanyakan benih sumber yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat petani untuk dikembangkan lebih lanjut. Pendampingan dan pengawalan teknologi juga dilakukan demi tercapainya target yang telah direncanakan. “Misi pemberdayaan petani patut di dukung, hanya saja dalam pelaksanaannya perlu bantuan atau subsidi. Saatnya kita beralih ke sistem usahatani adaptif wilayah untuk kemakmuran petani,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *