NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani. Menurut Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferansı pers di Jakarta pada Senin (2/1) menyebutkan wilayah dengan kenaikan NTP tertinggi (Desember) terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 2,26% jika dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.

Kepala BPS Margo Yuwono dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI (7/12/2022)

Indikator Nilai Tukar Petani dapat menampilkan tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. Selain itu NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi, maupun untuk biaya produksi. Namun indeks yang dibayarkan petani mencakup seluruh aspek pengeluaran rumah tangga petani sehingga tidak mencerminkan pengeluaran riil untuk usaha taninya. Sebagai respon atas beberapa kelemahan tersebut, maka digunakanlah indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP).

Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) merupakan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan biaya produksi (profitabilitas). NTUP Desember 2022 sebesar 108,96 atau naik 1,59 persen dibandingkan dengan November 2022. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa petani mengalami kenaikan dalam hal perdagangan ketika rata-rata tingkat harga yang mereka terima mengalami kenaikan yang lebih cepat daripada tingkat rata-rata harga yang dibayarkan untuk biaya produksinya.

Peningkatan NTUP disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,83%, lebih tinggi dari kenaikan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (IbBPPBM) yang hanya naik sebesar 0,24%.

Kepala BPS saat melakukan Konferensi Pers – Rilis Berita Resmi Statistik (2/1)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *