Penggulungan daun pada tanaman jagung merupakan respon adaptasi dan indikator tanaman mengalami cekaman kekeringan yang mudah diidentifikasi sehingga perlu diketahui keterkaitannya dengan hasil serta temperatur dan kandungan air relatif daun. Setiap galur/varietas mempunyai tingkat ketahanan yang berbeda terhadap ketahanan terhadap sengatan panas/suhu tinggi. Demikian disampaikan oleh Dr. Roy Efendi dalam seminar dua mingguan yang dilaksanakan di Auditorium Balitsereal (19/3/2018). Dalam pemaparannya, Roy menjelaskan bahwa evaluasi ketahanan genotype berdasarkan indicator penggulungan sangat membantu dalam menyeleksi galur tahan panas (drought stress).

Hasil pengamatan pada 70 genotipe jagung hibrida yang dievaluasi pada kondisi cekaman kekeringan periode fase pembungaan sampai sampai masak fisiologis menunjukkan bahwa penggulungan daun berkorelasi negatif dengan hasil pada kondisi cekaman kekeringan. Produksi biji dari jagung hibrida yang lebih awal mengalami penggulungan daun pada kondisi cekaman kekeringan lebih rendah yaitu masing-masing biji hanya 1,3 t/ha dan 1,2 t/ha dibanding jagung hibrida yang lebih lambat mengalami penggulungan daun. Semakin besar skor penggulungan daun yang dialami suatu genotipe jagung menunjukkan semakin besar intensitas cekaman kekeringan yang dialaminya. Persilangan 34/Mal 03 Balitsereal masih mampu menghasilkan 4,3 t/ha pada kondisi cekaman kekeringan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa  genotip jagung akan memberikan respon yang berbeda beda dikarenakan perbedaan morfologi, anatomi, dan metabolisme tanaman. Jagung hibrida yang toleran cekaman kekeringan mempunyai kemampuan mengabsorpsi air tanah dalam jumlah yang cukup serta mampu menekan kehilangan air melalui transpirasi, sebaliknya jagung hibrida yang peka cekaman kekeringan  menunjukkan kehilangan air yang lebih besar melalui transpirasi  dibanding absorbsi air tanah oleh akar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *