Respon pemerintah daerah terhadap kegiatan produksi benih jagung hibrida nasional sangat baik. Hanya berselang satu bulan setelah diluncurkannya kegiatan pilot project ini di kabupaten Minahasa Induk 100 ha, pemerintah daerah langsung meminta tambahan 100 ha lagi yang dialokasikan ke tiga kabupaten yaitu Minahasa Tenggara (Mitra) seluas 20 ha, di Minahasa Selatan (Minsel) 30 ha, dan di Minahsa Utara (Minut) 50 ha. Permintaan tersebut, direspon baik oleh Direktur Perbenihan (Dr. Ir. Takdir Mulyadi, MS) secara cepat dan mengundang mitra lisensi dan Badan Litbang Pertanian untuk sama-sama meninjau lokasi sebelum ditetapkan sebagai lokasi produksi benih.

Lokasi di tiga kabupaten tersebut adalah kecamatan Ratahan mewakili Mitra, kecamatan Tatapaan mewakili Minsel, dan kecamatan Kalawat mewakili Minut. Semuanya dalam kondisi siap tanam. Benih yang dipersiapkan untuk tiga lokasi tersebut juga telah siap untuk dibagikan pada saat petani sudah ingin menanam.

Setelah Penandatanganan MOU kegiatan Pengembangan kawasan jagung Berbasis Koorporasi petani 2019 (31/10/2019) dilakukan rapat terbatas, utusan Balitsereal menyampaikan Ucapan terima kasih kepada Kepala Dinas yang telah menyebarkan informasi dan mempersiapkannya, tidak saja kepada tiga Kabupaten, tetapi juga kepada Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. CPCL dari tiga kabupaten tersebut untuk benih yang akan dihasilkan per 30 Oktober 2019 telah mencapai 27.000 ha. Ini membuktikan bahwa peran dan dukungan pemerintah daerah cukup besar.

Kegiatan ini adalah kegiatan bersama dengan format tim di daerah adalah kepala Dinas Pertanian sebagai penggagas utama dan Litbang (Balitsereal dan BPTP Sulut) bersama dengan mitra lisensi berada di belakangnya. Untuk memperkuat tim, Balitsereal telah bekerjasama dengan peneliti/teknisi BPTP untuk mendampingi petani dalam menerapkan SOP produksi benih. Selain itu, telah melatih 10 staf BPSB-TPH Sulut di Balitsereal dalam hal jaminan mutu Benih jagung Balitbangtan.

Materi yang diberikan dalam pelatihan di Balitsereal tidak hanya teori tetapi juga melihat langsung pertumbuhan tanaman di lapangan. Di dalam kelas diperlihatkan karakteristik galur yang akan diawasi dilapangan. Mulai dari bentuk dan warna akar, batang, daun, rambut (silk), benangsarinya (Anther). Tidak hanya itu, tetapi juga perkiraan umur tanaman untuk pengamatan karakter tersebut. Jika ini dilakukan dengan baik, maka akan dihasilkan benih yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, materi yang diterima oleh petugas BPSB-TPH sedapat mungkin disampaikan kepada penyuluh dan ketua kelompok yang terkait dengan kegiatan ini dalam bentuk pelatihan singkat/Coaching sebelum mereka melakukan pendampingan. Ini penting agar satu bahasa sampai ke petani.

Karena pilot project ini diharapkan terciptanya kemandirian, maka dari awal sebaiknya ada pesan ke kelompok untuk memulai menumbuhkan modal/dana kelompok. Modelnya diserahkan, kelompok menetukan ketuanya, iurannya dan lain-lain dengan harapan tumbuh kesadaran mereka bahwa ini adalah milik, rencana, dan keinginan mereka.

Untuk itu Perlu ada pertemuan secara bertahap di tingkat kelompok, seperti halnya yang terjadi di daerah lain. Membahas seluruh permasalahan yang dihadapi dan mencarikan solusinya. Diharapkan dibentuk suatu grup untuk melaporkan progres setiap lokasi agar mudah dipantau.

Kedepan, jika kegiatan produksi benih ini berhasil, maka akan turun dukungan lainnya dari Dit pasca panen, Dit PSP, dan Badan SDM untuk mendorong kemandirian kelompok menjadi produsen benih jagung hibrida nasional.

IMG-20191103-WA0008IMG-20191103-WA0009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *