Mie Berbahan Baku Jagung Menunjang DIversifikasi Pangan

0
430

Jagung (Zea mays) merupakan komoditas pangan yang pemanfaatannya masih terbatas sebagai pakan di Indonesia. Pada hal, kegunaan jagung sebagai bahan pangan sangat potensial dan dapat dikembangkan secara luas karena mengandung antioksidan.

Sosalisasi penanganan pasca panen, pengolahan pascapanen serta produk-produk makanan berbasis jagung untuk pangan masyarakat mesti terus digalakkan. Apalagi dengan kandungan gizi yang terkandung dalam jagung sangat bermanfaat bagi kesehatan. Teknologi pengolahan untuk beras jagung dengan tambahan mikroba merupakan salah satu kemajuan di bidang pangan untuk mengembangkan beras jagung bagi penderita diabetes.

Mi jagung merupakan produk makanan kering yang terbuat dari tepung jagung dan bahan tambahan tertentu. Lebih mendetil Nur menjelaskan dengan rinci, mulai dari alat yang digunakan untuk pembuatan mi hingga cara pembuatanya. Untuk alat, dibutuhkan antara lain timbangan, mesin penggiling, penggiling adonan, oven, kukusan, dan baskom plastik. Jika semua sudah tersedia, dibutuhkan tepung jagung (3 Kg), tepung terigu protein tinggi (2 Kg), telur (5 butir), garam (100 gram), baking soda (40 gram), dan tentu saja air secukupnya. Teknik pembuatan mi ada dua cara yang dibedakan berdasarkan bahan baku, yaitu terigu dan non terigu. Untuk mi dengan bahan baku terigu, adonan mi dapat dibentuk menjadi lembaran (sheet) sehingga dapat menggunakan roller pencetak mi, Cara ini memerlukan adonan yang elastis, dan hal tersebut sangat dipengaruhi kandungan gluten, sehingga keberadaan terigu sangat diperlukan.

Subsitusi Terigu

Hasil penelitian, substitusi terigu dari tepung bahan lokal hanya mencapai 20 %, sedangkan untuk tepung jagung termodifikasi substitusi terigu untuk mi mencapai mencapai 40 %. “Seadainya semua produk mi sudah disubstitusi 30% saja, maka kebutuhan terigu yang seharusnya 50 % dari kebutuhan nasional, yaitu hampir 3 juta ton pertahun dapat dikurangi menjadi 2,1 juta ton pertahun. Jenis mi dengan bahan baku non terigu, biasanya menggunakan alat pencetak hidraulik. Produk mi dengan cara ini dapat dibedakan dari bahan bakunya. Apabila bahan bakunya pati, biasanya menghasilkan soun,laksa atau starch noodle, sedangkan bila bahan bakunya tepung dan pati disebut bihun. Tepung jagung termodifikasi dapat digunakan sebagai produk bihun, dengan substitusi pati jagung (maizena) atau pati ubikayu (tapioka) sebanyak 30 %. Bila dicermati, sebetulnya jenis mi non terigu tersebut sangat prospektif untuk dikembangkan. Kandungan gizi juga dapat bersaing dengan mi instan dari terigu. Bahkan kalau dari tepung jagung dengan varietas yang berwarna kuning maka akan lebih unggul karena mengandung antioksidan.

Untuk itu perlu kegiatan sosialisasi, dan dukungan kebijakan pemerintah. Tidak boleh dilupakan, butuh stategis pemasaran yang baik, sehingga dapat mengubah pola konsumsi masyarakat agar mau mengonsumsi mi dari bahan lokal non terigu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here