IMG_1839Mendukung program kementerian pertanian yang akan menjadikan tahun 2018 sebagai tahun benih, dalam hal ini badan litbang pertanian telah dipercaya untuk menyediakan 40 % kebutuhan benih nasional. Sehingga dalam upaya mengantisipasi ketidakcukupan ketersediaan benih jagung hibrida dan meningkatkan kemampuan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dalam memproduksi F1, maka diselenggarakan Pelatihan Produksi Benih Jagung Hibrida pada tanggal 16-18 Mei 2017.

Bertempat di Auditorium Prof. Ibrahim Manwan, Balai Penelitian Tanaman Serealia (BALITSEREAL), pelatihan ini resmi dibuka oleh Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakili oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Dr. Ir. Andriko. Pelatihan ini dihadiri oleh sekitar 80 peserta dari 32 BPTP se Indonesia dan anggota Babinsa Maros.

“BPTP merupakan miniatur Badan Litbang Pertanian di setiap provinsi, sehingga diharapkan sebagai ujung tombak pendaratan inovasi teknologi yang menjalankan kerja secara serius, memiliki target yang jelas, hasil yang dapat tertelusur dan kwantitatif dengan semangat CMS dan NKRI sehingga tidak kalah bersaing dengan perusahaan MNC yang telah Berjaya selama ini” ucap Kapuslitbangtan, Dr. Ir. Andriko.

Selain menerima teori mengenai teknik produksi benih komposit dan hibrida, pengelolaan tanaman dan hara, kemurnian benih, hama dan penyakit penting tanaman jagung, teknik prosesing, penyimpanan dan pengepakan benih, kiat-kiat pemasaran benih hingga prosedur sertifikasi benih, para peserta pelatihan juga melakukan kunjungan ke prosesing, gudang benih, dan laboratorium pengujian, serta melakukan praktek penanaman, dan detaselling di kebun percobaan Balitsereal di Maros.

Sebagai penutup, para peserta mengunjungi kebun percobaan Balitsereal yang terletak di Bajeng, Kabupaten Gowa. Pada kesempatan kali ini peserta pelatihan mengunjungi pertanaman calon-calon benih mulai dari varietas komposit, Pulut URI hingga hibrida. Gerimis hujan yang menyertai langkah para peserta tidak menyurutkan semangat mereka untuk melihat berbagai penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Balitsereal. Para peserta nampak antusias, dan tentunya berharap nantinya juga berhasil mengembangkan perbenihan di daerah mereka, menghasilkan produk karya anak bangsa sehingga bisa memenuhi target 40% kebutuhan benih nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *