Benih merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting dalam menunjang keberhasilan budidaya tanaman. Guna menjamin peningkatan adopsi dan ketersediaan benih bermutu di tingkat petani, BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah melalui kegiatan Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Mendukung Swasembada Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih menyelenggarakan Panen dan Temu Lapang Perbenihan Jagung Hibrida pada Rabu (30 Oktober 2019) di Desa Kaleke Kecamatan Dolo Barat Kabupaten Sigi.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendiseminasikan varietas unggul baru jagung Badan Litbang Pertanian beserta teknologi produksi benih di tingkat petani penangkar agar mampu menghasilkan benih bermutu secara mandiri spesifik lokasi, serta mampu menyediakan varietas unggul baru yang belum diproduksi oleh perbenihan komersil sehingga dapat mempercepat adopsi benih bermutu di tingkat petani pada daerah sentra produksi dengan dukungan teknologi yang didampingi oleh Balitsereal dan BPTP dengan manajemen mutu hasil dibawah pengawasan UPT Balai Pengawas Mutu dan Sertifikasi Benih.
Panen perbenihan HJ 21 di Sigi seluas 10 ha, dengan hasil panen sampel kisaran 1,2 – 1,4 per ha, dihadiri Kepala Dinas Pertanian Sulawesi Tengah, Camat, penyuluh Petani Penangkar, BPSB, BPTP, Balitsereal, serta Kelompok Tani se Kab. SIGI.Sigi merupakan sentra terbesar pengembangan produksi benih, khususnya benih jagung pada saat ini di wilayah Sulawesi Tengah selain Luwuk, Parigi Moutong, dan Donggala.  Tahun 2020 Provinsi Sulawesi Tengah membutuhkan benih Badan Litbang Pertanian untuk luasan 45.000 hektar.

Kepala Dinas Pertanian menyampaikan apresiasi kepada BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah dan Balitsereal atas pendampingannya selama ini kepada penangkar yang ada di Sulawesi Tengah.

Ir. Syahrir Pakki, MS Peneliti Balai Penelitian Tanaman Serealia mengatakan bahwa setelah melihat kondisi pertanaman di lapangan serta pengawalan yang baik oleh Balitsereal, BPTP dan BPSB sejak awal hingga saat panen hari ini, calon benih yang ada dipertanaman sekarang sudah ada indikasi kalau benih yang akan kita hasilkan termasuk dalam benih bermutu. Beliau menambahkan bahwa filosofi di pertanian “ kalo benih kita sudah bagus pada awal pertumbuhan dan kita kelola dengan baik persoalan yang timbul dilapangan akan sudah tereliminir sampai 60 %”. Dengan model mekanisme yang sudah berjalan saat ini dimana benih tetua berasal dari Balitsereal kemudian dikawal oleh BPTP dan BPSB beliau yakin insya allah Sulawesi Tengah akan semakin bagus dan semakin kuat dalam perbenihan kedepan. Inti persoalan keberhasilan budidaya tanaman jagung hanya di benih, dimana kualitas benih harus bagus. Beliau juga menyarankan agar supaya tidak terlalu repot dalam monitoring dan pengawasan oleh BPSB dan perlakuan ditingkat petani, maka produksi benih sebaiknya dilakukan secara sentralisasi, artinya tiap desa memproduksi benih yang berbeda dengan desa lainnya. Karena mengingat tingkat perselingkuhan benih ini sangat tinggi, serbuk sarinya mampu terbang sejauh 300 meter ke varietas lain, sehingga dianjurkan isolasi jarak 300 meter, 21 hari harus perbedaan tanam dengan varietas lain agar tidak terjadi selingkuh, karena kalo itu terjadi produksi F1nya akan menurun produksinya sampai 40 % dari potensi hasilnya. Pada prinsipnya beliau menambahkan, bahwa Balitsereal siap mendampingi dalam hal pengawasan produk yang berkualitas.

Semoga dengan adanya pengembangan benih bermutu di Sulawesi Tengah ini dapat terus meningkatkan kesejahteraan petani, dan berkontribusi di dalam mendukung Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia.

IMG-20191031-WA0000IMG-20191030-WA0048IMG-20191030-WA0050

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *