Pengembangan Jagung Hibrida NASA 29 di Nusantara

0
323

Penggunaan Varietas Unggul Baru jagung hibrida merupakan salah satu upaya khusus dalam peningkatan produksi jagung dan  keberhasilan usahatani jagung.  Balitsereal sebagai UPT Balitbangtan memiliki calon varietas jagung hibrida produktivitas tinggi dengan tingkat persentase prolifik (bertongkol dua) dapat mencapai ≥ 70% di dataran tinggi. Jagung Hibrida tersebut diberi nama Nakula Sadewa 29 (NASA 29) oleh Presiden Joko Widodo pada hari Pangan Sedunia tanggal 29 September 2016 di Boyolali, Jawa Tengah. Calon varietas tersebut akan dilepas pada tahun 2017

Jagung hibrida NASA 29 merupakan hasil persilangan antara galur inbrida G102612 sebagai tetua jantan dan MAL03 sebagai tetua betina, dimana kedua tetua tersebut memiliki gen bertongkol dua (prolifik) sehingga jagung hibridanya dapat bertongkol dua dengan persentase ≥ 70%pada kondisi lingkungan yang sesuai.

Keunggulan jagung hibrida NASA 29 yaitu pengisian biji pada tongkol penuh dan kelobot tertutup sempurna, rendemen biji >80%,  batang kokoh, tahan terhadap serangan hawar daun, penyakit bulai dan busuk tongkol. NASA 29 mempunyai adaptasi yang cukupluas baik didataran rendah sampai dataran tinggi, memiliki gen prolifik yang dapat mencapai 70% pada dataran tinggi (>1000 m dpl),potensi hasil 13,5 t/ha dan rata-rata hasil11.93 t/ha.

Jagung hibrida NASA 29 yang telah diperkenalkan atau didesiminasikan kepada masyarakat mulai tahun 2016 dalam skala luas sehingga pada saat varietas tersebut sudah dirilis, dapat diadopsi dengan cepat oleh petani untuk meningkatkan kesejahteraannya sehingga program pemerintah untuk mewujudkan swasembada jagung berkelanjutan dapat dicapai.

NASA 29 sudah didesiminasikan di daerah sentra pengembangan jagung hibrida sepertidi Provinsi Jawa Timur seluas 15 ha dengan produktivitas 12,5 – 13,5 t/ha, Jawa Barat dengan luasan 10 ha, produktivitas mencapai 11,5 – 12,5 t/ha, di Jambi dengan luasan 5 ha, produktivitas 11,35 – 12 t/ha, sedangkan di  Sulawesi Selatan mencapai luasan 30 ha dengan produktivitas 11,5 – 12,6 t/ha, Sulawesi Utara luasan 10 ha, produktivitas 12,15 – 13,0 t/ha, Sulawesi Tenggara dengan luasan 15 ha, produktivitas11,25 – 12 t/ha dan di NTB juga dengan luasan 30 ha menghasilkan 12,13 – 13,41 t/ha.

Tanggapan petani terhadap NASA 29 pada keseluruhan lokasi diseminasi dan pengembangan umumnya sangat baik, karena NASA 29 tidak hanya mempunyai produktivitas yang relative lebih tinggi dibanding varietas yang petani kembangkan saat ini, tetapi juga mempunyai penampilan yang cukup menarik, yaitu kelobot tertutup rapat, sehingga jika panen masih kondisi hujan, air hujan tidak mudah masuk ke tongkol yang dapat menyebabkan biji berkecambah, warna biji yang orange yang sangat sesuai dengan keinginan pedagang/pembeli jagung.

NASA 29 diharapkan menjadi salahsatu solusi untuk menurunkan harga benih jagung hibrida yang relatif mahal ditingkat petani dan meningkatkan produktivitas jagung nasional sehingga Indonesia menjadi Negara pengekspor jagung, karena NASA 29 adalah hasil karya anak bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here