Selama ini, benih multi nasional menguasai pasar bibit jagung di tanah air. Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian mendorong perusahaan lokal nasional untuk menjadi lisensor agar petani bisa mendapatkan benih berkualitas dan beradaptasi luas pada berbagai agroekosistem.

Keberhasilan Balitbangtan Kementerian Pertanian dalam menciptakan varietas unggul Jagung berdaya adaptasi luas NASA 29 memberikan pencerahan bagi dunia pertanian khususnya komoditas jagung di Indonesia. Setelah melalui proses ujimultilokasi, NASA 29 resmi di rilis sebagai varietas jagung hibrida pada bulan Nopember tahun 2017. NASA selanjutnya dipasarkan ke masyarakat melalui proses lisensi dengan BUMN dan perusahaan swasta nasional. NASA pun resmi masuk dalam program bantuan benih pemerintah tahun 2018.

Adalah PT Pertani, PT Sang Hyang Seri (SHS), PT Benindo Perkasa Utama, PT Twin, dan PT Sadar Tani Bersaudara yang menjadi peluncur produk NASA ke masyarakat bekerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten. Produksi benih tetua (parent seed) telah dilakukan pada akhir 2017 s/d pertengahan 2018 untuk kemudian diserahkan ke lisensor untuk diperbanyak menjadi benih hibrida F1 untuk memenuhi kuota benih bantuan nasional tahun 2018 bersama dengan hibrida Balitbangtan lainnya seperti Bima 20, Bima 3, HJ 21 Agritan, Bima 10, Bima 14 dan Bima 2 yang totalnya mencapai 60 persen kebutuhan benih jagung nasional, setara kurang lebih tiga juta hektar..

Jagung hibrida NASA 29 merupakan hasil persilangan antara galur inbrida G102612 sebagai tetua jantan dan MAL03 sebagai tetua betina, dimana kedua tetua tersebut memiliki gen bertongkol dua (prolifik) sehingga jagung hibridanya dapat bertongkol dua dengan persentase ≥ 70%pada kondisi lingkungan yang sesuai.

Keunggulan jagung hibrida NASA 29 yaitu pengisian biji pada tongkol penuh dan kelobot tertutup sempurna, rendemen biji >80%,  batang kokoh, tahan terhadap serangan hawar daun, penyakit bulai dan busuk tongkol. NASA 29 mempunyai adaptasi yang cukupluas baik didataran rendah sampai dataran tinggi, memiliki gen prolifik yang dapat mencapai 70% pada dataran tinggi (>1000 m dpl),potensi hasil 13,5 t/ha dan rata-rata hasil11.93 t/ha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *