Sorgum Merah Lokal Pulau Selayar

0
125

Sorgum merah atau “Bataraeja” merupakan jenis pangan yang telah dikonsumsi secara turun temurun oleh masyarakat di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Demikian pemaparan Arfianto STP, Anggota DPRD Kabulaten Selayar dalam pemaparan saat berkunjung ke salah satu UPT Badan Litbang Pertanian yaitu Balai Penelitian Tanaman Serealia.  Sorgum  merah disukai bukan saja karena warna biji yang indah tetapi juga bermanfaat sebagai pangan sehat. Sorgum merah juga termasuk golongan tanaman “anti panas” dalam artian tanaman sangat menyukai daerah yang panas dan kering termasuk wilayah kepulauan seperti Selayar. Beragam khasiat yang dimiliki oleh sorgum merah membuat komoditas ini terus dibudidayakan dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Sorgum merah merupakan salah satu dari sekitar 30 kerabat spesies sorgum yang ada dengan beragam bentuk dan warna malai serta biji. Menurut Pemulia Tanaman Sorgum yang juga Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia, Dr. Muhammad Azrai, sorgum merah atau red sorgum mempunyai ciri yang khas yaitu malai yang berbentuk semi kompak dan biji yang berwarna merah. Warna merah pada biji sorgum disebabkan oleh adanya testa atau lapisan sel tipis dibawah pericarp yang mengandung unsur tanin. Ketebalan lapisan perikarp menentukan warna biji dimana semakin tebal lapisan perikarp semakin banyak variasi warna yam muncul seperti merah, pink dan coklat. Tebal lapisan perikarp umumnya berkisar antara 8 sampai160 um. Lebih lanjut, Azrai menyatakan bahwa budidaya tanaman sorgum merah dalam skala petani banyak ditemui di wilayah dengan iklim kering seperti NTT, Selayar, Gunung Kidul dan Demak.

Sorgum merah umumnya ditanam petani pada musim kemarau dimana suplai air hujan telah menurun namun dengan perakarannya yang bisa memanjang, sorgum masih dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Kebutuhan benih berkisar 7-10 kg per hektar. Petani umumnya tidak memupuk tanaman sorgum atau dipupuk dengan dosis urea dan phonska yang rendah. Panen dapat dilakukan pada sekitar umur 105 hari setelah tanam. Kandungan nutrisi plasmanutfah sorgum merah telah dianalisis oleh Balai Penelitian Tanaman Serealia. Komposisi nutrisi sorgum merah (genotipe Batara Eja) meliputi unsur karbohidrat 73,92%, Protein 9,02%, Lemak 3,80 %, Abu 3,35%, Tanin 10,60% serta air sebesar 9,90%.

Beragam manfaat dari konsumsi sorgum merah namun belum banyak dilaporkan.  Peneliti pascapanen dan pengolahan hasil Balai Penelitian Tanaman Serealia, Prof Dr Suarni menyatakan bahwa bebagai bahan pangan, sorgum merah mengandung unsur nutrisi mikro yang tinggi seperti besi dan kalsium sehingga sangat baik untuk kesehatan. Lebih lanjut, Prof Suarni menyatakan bahwa sorgum merah juga dapat diolah menjadi industry olahan rumah tangga seperti tape sorgum merah, beras sorgum dan aneka cake. Sebagai pakan ternak, sorgum batang dan biji sorgum merah dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak sapi yang kaya nutrisi.

Pelaku industri juga dapat memanfaatkan sorgum merah sebagai bahan baku pembuatan etanol, bahan adhesif serta kemasan yang ramah lingkungan. “ Misi menjadikan sorgum sebagai makanan pokok di Pulau Selayar patut di dukung, hanya saja dalam pelaksanaannya perlu bantuan atau subsidi. Saatnya kita beralih ke system usahatani adaptif wilayah dan kearifan lokal untuk kemakmuran petani,” kata dia. Selain itu peran pemerintah juga dibutuhkan dalam mengembangkan komoditas sorgum merah sehingga dapat menjadi salah satu sumber pangan, pakan dan bahan baku industri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here