Rapat Koordinasi Sekolah lapang desa mandiri benih (SL-DMB) padi, jagung dan Kedelai mengevaluasi kinerja program tersebut dari tahun 2015 hingga 2019 dan implikasi kebijakan dari kegiatan tersebut di tahun 2020. Hadir Kepala Balit Nasional lingkup Puslitbangtan bersama penanggung Jawab SL-DMB nya, Kordinator DMB BB2TP dan penanggung jawab kegiatan DMB BPTP se Indonesia, serta Pakar dari PSEKP, PT. Pertani, dan Direktorat Perbenihan.
Kepala Balitsereal, Dr. Muhammad Azrai menyampaikan pengalamannya dan evaluasinya terhadap kemandirian DMB di komoditi Jagung, bahwa untuk menuju mandiri dan berkelanjutan harus memenuhi beberapa persyaratan.  Harus bersinergi dengan seluruh pihak yang terkait dengan penyediaan benih, baik dalam lingkup Kementan, maupun swasta dan pengambil kebijakan tentang pengembangan benih jagung. Saat ini ada program dari Direktorat Perbenihan mengembangkan produk nasional di 6 provinsi dan telah mengembangkan seluas 1.075 ha, diantaranya 100 ha sudah panen dan hasilnya memberi keuntungan petani tiga kali lipat dibanding dengan tanam jagung biasa. Oleh karena itu, banyak petani yang tertarik bergabung untuk menghasilkan benih. Di Tuban untuk MT II meningkat dari 89,6 ha pada MT I menjadi 300 ha di MT II. Kabupaten Tanah Laut, Kalsel 72 ha, Di Lampung Timur dari 60 ha, di Sulawesi Utara 4 kabupaten seluas 253,4 ha, Bone Sulsel 100 ha, dan Lombok Timur, NTB 50 ha.
Benih jagung itu seksi dan harus dikelola dengan manajemen Bisnis. Calon produsen benih harus diarahkan menjadi produsen dan sekaligus distributor benih. Oleh karena itu mereka harus mempunyai modal yang kuat dan manajemen bisnis yang visioner (kegiatan padat modal dan padat karya), ungkap Azrai.
Dengan mendukung program tersebut hampir seluruh harapan Menteri Pertanian di jalankan antara lain: REL harus dihidupkan, program ini melibatkan PPL dan koordinatornya sebagai pendamping di lapangan yang lebih dahulu dibekali teknologinya; mendekatkan produksi dengan pasar, program ini mengutamakan hasilnya untuk menutupi kebutuhan wilayahnya lebih dahulu; berkoordinasi dengan internal dan eksternal instansi, program ini melibatkan seluruh eselon I lingkup kementerian untuk memberikan dukungan sesuai dengan kewenangannya, dan swasta nasional untuk terlibat langsung dan aktif mengikuti dilapangan sampai pemasarannya; Melibatkan petani sebagai pelaku utama untuk memproduksi benih sehingga terjadi transfer teknologi untuk mendorong peningkatan pendapatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *