Ketersediaan Lahan dan Pola Tanam Jagung

0
8

Terjadinya persaingan yang sangat ketat dalam penggunaan lahan sawah, khususnya lahan irigasi yang notabene tingkat kesuburannya lebih baik, mendorong usaha tani jagung lebih banyak pada lahan non sawah, khususnya lahan kering. Hampir sekitar 82- 84% kegiatan produksi dilakukan pada lahan non sawah, khususnya di lahan kering, sementara pada lahan sawah hanya sekitar 16-18% dari total luas panen jagung. Survey BPS periode 2012-2016 menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan budidaya jagung dilakukan di lahan non sawah dengan proporsi 82-84% sedangkan sisanya ditanam pada lahan sawah.

Pada lahan sawah, luas panen jagung pada lahan sawah irigasi dan lahan sawah tadah hujan hampir berimbang. Jadi dapat dipastikan bahwa pertanaman jagung pada lahan kering banyak pada musim penghujan (Oktober-Maret). Selama musim penghujan ada sekitar 69% lahan yang ditanami jagung. Perinciannya, 49% pada Musim Hujan I (Oktober-Desember) dan 20% pada Musim Hujan II (Januari-Maret). Sementara sebanyak 17% ditanam pada Musim Kemarau I (April-Juni) dan 14% ditanam pada MK II (Juli-September). Produksi jagung yang terkonentrasi pada musim hujan harus disiasati dengan penyediaan fasilitas pascapanen dan prosesing untuk mencegah kontaminasi jamur saat penyimpanan setelah panen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here