Kendalikan Fall Armyworm, FAO Gelar Temu Konsultatif di Bangkok

0
74

 

Negara produsen jagung dunia tidak terkecuali Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius serangan hama ulat grayak baru yaitu Fall Armyworm (FAW). Meski belum masuk ke Indonesia, hama ini harus diwaspadai karena telah mewabah dari Benua Amerika pada tahun 2016, masuk ke Benua Afrika dan menyebar di wilayah Asia hingga kini sudah ke Thailand pada tahun 2018.

FAW merupakan salah satu jenis ulat grayak yang mempunyai jelajah tinggi. Bahkan imago-nya bisa terbang jauh, bahkan jika terbawa angin bisa mencapai 100 km. Imago ulat cepat menyebar, bahkan termasuk penerbang kuat dapat mencapai jarak yang cukup jauh dalam satu minggu. Kalau dibantu angin bisa mencapai 100 km. Selain itu kecepatan reproduksinya juga sangat tinggi. Larva berukuran besar dan bersifat kanibal.

FAW berasal dari Amerika dan dilaporkan mulai menyerang pertanaman jagung di Afrika pada tahun 2016. FAW kemudian menyebar dengan cepat di benua Afrika dan menyerang puluhan juta hektar jagung, sorghum, dan millet. Pada tahun 2018, serangan FAW dilaporkan menjangkau Yaman dan India dan meluas ke Sri Lanka dan Bangladesh. Pada awal 2019, serangan FAW sudah memasuki wilayah Asia Tenggara yaitu Thailand dan Myanmar. Bahkan di Thailand hingga Maret 2019 ini, FAW sudah menyebar di seluruh pertanaman jagung di negara tersebut.

FAO sebagai badan dunia yang menangani masalah pangan menggelar consultative meeting di Bangkok, Thailand pada tanggal 20-23 Maret 2019. Consultative meeting ini diikuti oleh sejumlah negara baik sebagai anggota FAO, negara donor, pemerintahan (pengambil kebijakan) diantaranya Amerika Serikat, Argentina, Italia, Inggris, Swiss, Belgia, Ghana, Kamerun, Ethiopia, India, Bangladesh, Pakistan, Nepal, Buthan, China, Korea Selatan, Thailand, Myanmar, Vietnam, Cambodia, Malaysia, Indonesia, Singapore, Philippines, Timor Leste, dan Australia. Delegasi Indonesia pada temu konsultatif diwakili oleh Kepala Balitsereal Dr Muhammad Azrai beserta peneliti hama dan penyakit tanaman jagung yaitu Dr .Amran Muis dan Ir Nurnina Nonci MS.

Consultative meeting membahas sejumlah agenda diantaranya pengenalan FAW dan pembelajaran dari FAO Global Programme, pengalaman pengelolaan FAW di Afrika; country status of FAW di Asia (peringatan, monitoring, respon cepat, strategi jangka menengah dan panjang); Monitoring dan survei terhadap hama FAW. Consultative meeting juga membahas FAW knowledge management dan technical working groups termasuk pengendalian biologi, kimiawi, biopestisida, serta agroekologi, monitoring dan system peringatan dini, impact assessment, penguatan kapasitas petani dalam pengendalian FAW.

Setiap negara yang tergabung dalam FAO diminta untuk membuat rencana aksi pengendalian FAW termasuk Indonesia. Delegasi Indonesia yang diwakili oleh Dr. Amran Muis memaparkan sejumlah rencana aksi diantaranya 1.Mengadakan pelatihan terhadap pengamat OPT pada seluruh sentra jagung di Indonesia 2019 (kerjasama Kementerian Pertanian, FAO, Perguruan Tinggi), 2. Penelitan/pengujian bersama antara pemerintah dan industri tentang pengenalan dan potensi hama FAW tahun 2019 (kerjasama Balitsereal, Perusahaan benih dan pestisida), 3. Meningkatkan kesadaran masyarakat dengan menyediakan informasi yang akurat   Kemtan melalui Ditjen Tanaman Pangan telah mengunggah dan mendiseminasikan informasi terkait FAW di media-media sosial. Melalui rencana aksi tersebut, diharapkan FAW dapat dikendalikan dan tidak menyebar dan merusak pertanaman jagung di Indonesia.

12

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here