Hamparan pertanaman sawit muda yang masuk kategori tanaman belum menghasilkan (TBM) di Provinsi Jambi, tepatnya di Desa Ujung Tanjung Bahar Selatan Kabupaten Muarojambi dibiarkan kosong oleh petani setempat selama 2-4 tahun sambil menunggu tanaman menghasilkan. Kondisi lahan yang ternaungi oleh tajuk tanaman sawit serta intensitas cahaya yang rendah menyulitkan budidaya tanaman pangan termasuk jagung. Maklum saja, belum ada varietas unggul jagung yang tahan pada kondisi ternaungi tanaman sawit. Setali tiga uang, kondisi lahan produktif di Manado Sulawesi Utara yang dipenuhi tanaman kelapa rakyat muda juga dibiarkan kosong. “Petani masih enggan menanam jagung di sela tanaman kelapa karena tanamannya kerdil dan produktivitasnya rendah sehingga kurang menguntungkan petani” kata Ruland, petani kelapa rakyat di sana. BPS dan Kementerian Pertanian mencatat sedikitnya terdapat 21,6 juta lahan perkebunan yang terdiri dari lahan sawit, kelapa rakyat, jati dan karet potensial yang tidak termanfaatkan secara optimal karena sulitnya tanaman pangan khususnya jagung tumbuh dibawah tegakan tanaman perkebunan.

Kementerian Pertanian melalui Lembaga litbangnya bekerja keras untuk merakit varietas jagung toleran naungan pada tanaman perkebunan. Integrasi lahan merupakan salah satu langkah pendekatan yang diambil oleh Kementan untuk pencapaian kemandirian pangan di Indonesia. Hasil kerja keras peneliti Kementan membuahkan hasil pada akhir 2018. Sidang Tim Pelepas dan Penilai Varietas (TP2V) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan pada 7 Nopember 2018 menyetujui usulan pelepasan galur murni Mal 03 sebagai tetua betina dan CY15 sebagai tetua jantan hasil pengembangan Balai Penelitian Tanaman Serealia menjadi varietas unggul jagung baru yang diberi nama JHANA 1. Jagung tahan naungan ini juga mencatat rekor sebagai varietas tahan naungan pertama yang di lepas di Indonesia.

“Jagung hibrida tahan naungan sangat prospektif mengingat saat ini sulit mencari lahan baru untuk program perluasan areal tanam baru (PATB) jagung akibat tingginya alih fungsi lahan. Dengan menggunakan varietas tahan naungan maka program PATB pemerintah bisa dialokasikan dilahan perkebunan sebagai tanaman sela yang diharapkan mampu memberikan kontribusi yang signifikan menunjang swasembada jagung nasional” kata Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Ismail Wahab, saat menghadiri panen raya jagung hibrida nasional produktifitas tinggi di Luwu Utara, Senin (19/11 2018).

Jagung termasuk golongan tanaman “tahan panas dan kering” dalam artian tanaman sangat menyukai daerah yang panas dan tidak menyukai naungan. Cekaman naungan akan menyebabkan tanaman jagung tumbuh kerdil dan hasilnya rendah. Namun demikian, dengan rekayasa teknologi jagung, jagung dapat dimodifikasi sifat fisiologisnya sehingga toleran pada kondisi ternaungi atau cahaya rendah. Adalah Dr. Muhammad Azrai, pemulia tanaman jagung pada Balai Penelitian Tanaman Serealia yang merintis riset jagung tahan naungan sejak tujuh tahun terakhir. Penciptaan varietas dengan ketahanan naungan dilakukan melalui proses yang panjang, dimulai dengan seleksi plasmanutfah tahan genangan dari seluruh Indonesia dan galur introduksi dari CIMMYT Mexico untuk melihat gen jagung yang bisa beradaptasi pada kondisi ternaungi. Gen tersebut dimanipulasi untuk membuat varietas yang lebih toleran terhadap naungan.

Ia menambahkan, ada delapan lokasi/musim yang harus dipenuhi untuk uji kesesuaian varietas, diantaranya Jambi, Sulut, Jateng, Kaltim dan Sulsel. Hasil uji lapangan yang panjang kemudian melahirkan varietas jagung hibrida tahan naungan, JHANA 1. JHANA 1 mempunyai banyak keunggulan diantaranya mampu menghasilkan 8,0 ton per hektar dalam kondisi ternaungi 50%. Perakaran tanaman sangat baik sehingga tahan rebah, bentuk tongkol besar, kelobot menutup dengan sempurna serta tahan terhadap penyakit jagung utama.  “Dengan ditemukan dan dilepaskannya varietas ini ke pasaran, saya berharap ketergantungan terhadap benih impor semakin berkurang dan dapat diisi oleh benih varietas nasional,” kata Azrai.

Kehadiran jagung hibrida baru tentu saja di sambut hangat oleh petani termasuk petani kelapa rakyat di Manado. Ronald, salah seorang petani jagung di Bitung Sulawesi Utara menyatakan bahwa kehadiran benih jagung baru tersebut akan meningkatkan motivasi petani kelapa untuk menanam jagung demi menjaga ketahanan pangan nasional khususnya di Sulawesi Utara. “Sambil menunggu kelapa berbuah, jagung dapat ditanam antara 2-4 tahun dengan hasil tinggi” sambung Ronald.

Azrai yang saat ini menjabat sebagai Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia, menyatakan bahwa saat ini telah dilakukan perbanyakan benih jagung tahan naungan di Wajo, Sulsel. Benih sumber yang dihasilkan nantinya akan dibagikan kepada masyarakat petani yang mengelola perkebunan untuk dikembangkan lebih lanjut. Pendampingan dan pengawalan teknologi juga dilakukan demi tercapainya target yang telah direncanakan. “Misi pemberdayaan petani di areal perkebunan patut di dukung, hanya saja dalam pelaksanaannya perlu bantuan atau subsidi. Saatnya kita beralih ke sistem usahatani adaptif wilayah untuk kemakmuran petani,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *