Budidaya jagung umumnya dilakukan pada musim hujan. Sekitar 70% produksi jagung dihasilkan pada musim hujan, antara bulan Nopember sampai bulan April. Pemerintah saat ini telah mengembangkan sejumlah proyek penyediaan air untuk musim kemarau yang dapat digunakan untuk mengairi tanaman seperti pembuatan embung baik secara swadaya maupun melalui skema bantuan pemerintah.

Masyarakat desa kini juga mulai melirik dam parit sebagai alternatif jaringan irigasi yang biayanya lebih terjangkau. Kementan sukses memberi model dam parit di sentra-sentra di Jawa sehingga diikuti daerah lain. Petani umumnya menerapkan sistem budidaya pertanian hemat air speerti menanam jagung hibrida dibandingkan menanam padi yang membutuuhkan air yang lebih banyak.

Kebutuhan air tanaman jagung dalam satu musim berkisar antara 400-500 mm, jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan air tanaman padi yang mencapai 1200 mm. Untuk efisiensi pemberian air, pemberian air difokuskan pada fase kritis pertumbuhan tanaman, seperti fase pembungaan sampai pengisian maka penurunan hasil lebih besar yaitu berkisar 66 – 83%, dibanding bila tanaman jagung mengalai cekaman kekeringan hanya pada vase vegetatif dengan penurunan hasil berkisar 20 – 40% (Aqil, 2007), sedangkan apabila air tanah mencukupi maka pemberian air dapat dilakukan 10-14 hari sekali dengan menggunakan pompa air tanah dangkal dengan metode pemberian air dengan cara digenangi atau dengan menggunakan sistim alur (furrow irrigation).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *