Jhana 1- Jagung Hibrida Toleran Naungan

0
101

Jagung termasuk golongan tanaman “tahan panas dan kering” dalam artian tanaman sangat menyukai daerah yang panas dan tidak menyukai naungan. Cekaman naungan akan menyebabkan tanaman jagung tumbuh kerdil dan hasilnya rendah. Namun demikian, dengan rekayasa teknologi jagung, jagung dapat dimodifikasi sifat fisiologisnya sehingga toleran pada kondisi ternaungi atau cahaya rendah. Pemulia tanaman jagung pada Balai Penelitian Tanaman Serealia telah merintis riset jagung tahan naungan sejak tujuh tahun terakhir. Penciptaan varietas dengan ketahanan naungan dilakukan melalui proses yang panjang, dimulai dengan seleksi plasmanutfah tahan genangan dari seluruh Indonesia dan galur introduksi dari CIMMYT Mexico untuk melihat gen jagung yang bisa beradaptasi pada kondisi ternaungi. Gen tersebut dimanipulasi untuk membuat varietas yang lebih toleran terhadap naungan.

Uji daya hasil dilakukan pada delapan lokasi/musim yang harus dipenuhi untuk uji kesesuaian varietas, diantaranya Jambi, Sulut, Jateng, Kaltim dan Sulsel. Hasil uji lapangan yang panjang kemudian melahirkan varietas jagung hibrida tahan naungan, JHANA 1. JHANA 1 mempunyai banyak keunggulan diantaranya mampu menghasilkan 8,0 ton per hektar dalam kondisi ternaungi 50%. Perakaran tanaman sangat baik sehingga tahan rebah, bentuk tongkol besar, kelobot menutup dengan sempurna serta tahan terhadap penyakit jagung utama.

Kehadiran jagung hibrida baru tentu saja di sambut hangat oleh petani termasuk petani kelapa rakyat di Manado. Petani jagung di Bitung Sulawesi Utara menyatakan bahwa kehadiran benih jagung baru tersebut akan meningkatkan motivasi petani kelapa untuk menanam jagung demi menjaga ketahanan pangan nasional khususnya di Sulawesi Utara. “Sambil menunggu kelapa berbuah, jagung dapat ditanam antara 2-4 tahun dengan hasil tinggi” sambung petani.

Saat ini telah dilakukan perbanyakan benih jagung tahan naungan di Wajo, Sulsel. Benih sumber yang dihasilkan nantinya akan dibagikan kepada masyarakat petani yang mengelola perkebunan untuk dikembangkan lebih lanjut. Pendampingan dan pengawalan teknologi juga dilakukan demi tercapainya target yang telah direncanakan. “Misi pemberdayaan petani di areal perkebunan patut di dukung, hanya saja dalam pelaksanaannya perlu bantuan atau subsidi. Saatnya kita beralih ke sistem usahatani adaptif wilayah untuk kemakmuran petani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here