Persoalan mengatasi ketertinggalan pembangunan pertanian dan mewujudkan kemandirian pangan di wilayah perbatasan memang tidak mudah. Spektrum sebaran wilayahnya yang luas dengan beragam kendala yang terdengar sangat menantang juga tidak terbantahkan, termasuk di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Barat. BB Pengkajian, Balitbangtan kemudian turut mengambil peran dengan melakukan kajian rancangan model sistem usaha pertanian (SUP) inovatif berbasis jagung yang sudah diinisiasi sejak tahun 2017.

Berlokasi di Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, pada tahun 2017, telah diintroduksikan paket teknologi berbasis jagung dengan menempatkan teknologi benih (varietas unggul baru/VUB) sebagai pendorong utama perbaikan produksi jagung di lokasi kajian. Melibatkan lima kelompok tani, VUB jagung hibrida Bima 19 serta jagung komposit Lamuru dan Sukmaraga ditanam pada musim tanam 2017 dan hasilnya sudah dipanen sekitar Bulan Februari – Maret 2018.
“Meskipun dari sisi produksi masih belum optimal akibat kendala curah hujan tinggi pada saat panen, namun dari sisi diseminasi justru sangat menggembirakan. Penyebaran teknologi VUB jagung berjalan dengan cukup masif. Benih jagung hasil panen petani kooperator telah menyebar ke beberapa petani lainnya,” tutur Haris Syahbuddin, Kepala BB Pengkajian.

“Tidak hanya petani di dalam kelompok, namun di luar kelompok bahkan juga luar desa dan kecamatan. Hasil panen Bapak Sudarji misalnya, hampir 100 kg benihnya dibeli dan ditanam oleh petani di dalam dan luar kelompok atau setara dengan luasan lahan sekitar 5 ha,”lanjutnya.
Dari sisi petani produsen, penjualan benih memberikan pendapatan yang menjanjikan karena harganya lebih tinggi dibandingkan harga jagung untuk pakan. Tingkat harga benih jagung komposit sekitar Rp 10.000/kg, sedangkan jagung untuk pakan harganya bergerak di kisaran Rp 3.300/kg. Namun harga benih tersebut masih jauh di bawah harga benih hibrida swasta yang selama ini digunakan petani. “Produksi jagung VUB yang lebih baik dibandingkan varietas eksisting dan harga jual benih yang kompetitif, menjadikan petani-petani sekitar tertarik untuk membeli,”ujar beliau dalam pernyataan tertulisnya.

Pola diseminasi dari petani ke petani memang cukup efektif untuk mempercepat adopsi inovasi, karena petani secara langsung dapat bertanya dan melihat hasil penerapan teknologi di lapang. Adanya interaksi antar petani akan menstimulasi proses belajar dalam kelompok, dan meningkatkan rasa keingintahuan dan kreativitas petani itu sendiri. Pola tersebut perlu terus dikembangkan, utamanya dalam mempercepat penyebaran teknologi VUB dan teknologi lain yang dihasilkan oleh Balitbangtan. Harapannya, teknologi Balitbangtan akan terus dikenal dan diterapkan oleh petani. Hingga intensi mendorong geliat pembangunan pertanian dan mewujudkan ketahanan pangan di wilayah-wilayah perbatasan menjadi sebuah keniscayaan. SY/HMSL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *