Kegiatan budidaya jagung di tingkat petani dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pola dan variasi tanam. Pemanfaatan sistem tanam umumnya dikaitkan dengan upaya peningkatan  produktivitas tanaman, perbaikan tingkat rendemen biji serta peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Di Kabupaten Bulukumba, petani menanam dengan sistim tanam ganda atau double row dengan tujuan untuk meningkatkan rendemen biji. Sementara itu di Kalsel, penggunaan system tanam ganda berbasis legowo 2 : 1 diterapkan untuk meningkatkan potensi hasil tanaman. Di Jawa Timur, penerapan sistim tanam ganda juga ditumpangsarikan dengan kacang tanah untuk optimalisasi lahan dan pendapatan petani.

Balai Penelitian Tanaman Serealia telah menetapkan jarak tanam anjuran untuk sistim double row yaitu 20 cm x (40 cm – 90 cm) dengan populasi 77.000 tanaman/ha. Khusus untuk varietas dengan tipe tanaman berdaun tegak (erect) maka jarak tanam dapat dibuat lebih rapat yaitu 20 cm x (40 cm – 80 cm) dengan populasi 83.000 tanaman/ha.

Penerapan jarak tanam di tingkat petani Jarak bervariasi tergantung lokasi dan pola kebiasaan petani. Petani di NTT menggunakan sistim tanam ganda dengan jarak tanam 100 cm x 40 cm x 20 cm (satu biji perlubang tanah). Di Kabupaten Magetan, sistim tanam ganda di tumpangsarikan dengan kacang tanah. Jarak antar jagung baris ganda 40 cm dan jarak tugal dalam barisan 20 cm, ditanam 2 benih per lubang. Jarak baris ganda jagung ke baris ganda jagung berikutnya 280 cm, dan ditanami kacang tanah. Dengan pengaturan tersebut, populasi jagung sekitar 60.000 tanaman/ha sementara populasi kacang tanah  mencapai 210.000 tanaman/ha.  Penggunaan NASA 29 sebagai varietas dalam sistim tanam ganda memberikan keuntungan lain yaitu peluang tanaman bertongkol dua lebih tinggi, pengisian biji penuh sampai ke pangkal serta produktivitas jagung lebih tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *