Aflatoksin pada Jagung dan Teknik Identifikasinya

0
248

Cemaran aflatoksin pada jagung merupakan salah satu masalah utama pada kegiatan pascapanen jagung. Selain kadar air, ternyata aflatoksin cukup signifikan dalam meningkatkan posisi tawar sehingga jagung bisa diterima oleh pabrik pakan.

Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh strain yang toksigenik dari A flavus dan A parasiticus. Aflatoksin yang umum ditemukan pada pakan ternak adalah aflatoksin B1, B2, G1, dan G2. Di antara semua jenis aflatoksin tersebut, aflatoksin B1 yang paling berbahaya. Ternak yang mengkonsumsi pakan yang tercemar aflatoksin akan berakibat tidak berfungsinya gastrointestinal, penurunan daya reproduksi, penurunan produksi telur dan susu, serta penurunan kekebalan tubuh pada ternak.

Saat ini, pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu persyaratan mutu jagung pada SNI 4483:2013 yang sangat penting adalah kandungan mikotoksin terutama aflatoksin. karena selain mempengaruhi mutu juga berkaitan dengan kemananan pangan. Dalam SNI dipersyaratkan kandungan aflatoksin maksimum untuk jagung sebagai pakan ternak Mutu I dan Mutu II, masing-masing 100 ppb dan 150 ppb.

Dengan tersedianya perangkat uji ini di lapangan, selain memudahkan petani mengetahui mutu jagung dari cemaran aflatoksin, sekaligus dapat dijadikan pedoman oleh petani dalam memperbaiki penanganan pascapanennya.  

Adapun beberapa keunggulan perangkat adalah, pertama, dapat digunakan untuk mengestimasi kadar aflatoksin dengan cepat, kedua, mudah digunakan di lapangan dan dioperasionalkan oleh petani, dan ketiga, harga relatif murah serta terjangkau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here