Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalsel (18/7/2018). Kegiatan bimtek ini merupakan rangkaian kegiatan dalam kaitannya dengan persiapan demplot farm (denfarm) di lahan masam khususnya di Kalimantan Selatan, baik di lahan kering maupun di lahan basah. Pada kesempatan pembukaan Bimtek, Kepala Badan Litbang Pertanian, Muhamad Syakir menyampaikan pentingnya acara tersebut. Syakir menekankan kerjasama kemitraan perlu terus dijaga dan ditingkatkan baik antara petani dengan pemerintah maupun petani dengan lembaga penelitian.

Terdapat dua tipologi lahan yang belum optimal dikelola yakni lahan tadah hujan dan lahan rawa. Kementerian Pertanian berfokus pada pengelolaan dua tipe lahan tersebut. Keduanya memiliki tantangan pengelolaan sendiri. Masalah utama para lahan rawa masalah adalah tata air, kemasam tanah (pH) yang rendah, juga kandungan Aluminium (Al) yang tinggi. Sementara pada lahan kering masalahnya adalah kekeringan atau kekurangan air, pH tanah dan kesuburan tanah yang rendah.

Di Indonesia terdapat lebih dari dua pertiga tanah bereaksi masam dan memiliki kadar C-organik rendah sehingga ketersedian unsur hara N P, K, Ca, dan Mg pada tanah tersebut rendah. Batuan fosfat mengandung P, Ca, dan Mg tinggi serta dapat meningkatkan pH. Selain itu fosfat alam tidak perlu diolah di pabrik sehingga harga lebih murah, ujar Dedi. Sejalan dengan Dedi, Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Husnain menguraikan aspek efisiensi dan efektifitas penggunaan rock fosfat. Rock phosphate dapat langsung digunakan. Tidak perlu diolah di pabrik terlebih dahulu. Memiliki sifat lepas lambat (slow release), efek residu dapat bertahan 4-5 musim tanam, pungkas Husnain.

 

Bimtek ini menghadirkan narasumber Dr. Nuning Agrosubekti (Puslitbangtan), Dr. M. Azrai (Balitsereal), Dr. Husnain (Balittanah), Ir. Hendri Sosiawan CESA (Balittra), Dr. Sri Rochayati (Balittanah), dan Budiono, S.Pd. (petani jagung sukses). Acara bimtek terbilang sukses, sesi teori, diskusi, maupun praktek di lapangan diikuti peserta secara antusias dibarengi dengan berbagai pertanyaan kritis. Dihadiri oleh 59 orang petani dari Kabupaten Barito Kuala, Pleihari, dan Tanah Laut, penyuluh pertanian lapang, dan para peneliti Balittra, Balittanah, dan BBSDLP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *