IMG_4561Guna mendukung swasembada jagung berkelanjutan, Kementerian Pertanian telah memfasilitasi Penyediaan alsintan melalui kegiatan penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan substantif yaitu semakin berkurangnya dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian serta lemahnya permodalan petani untuk mengakses kepemilikan alsintan. Diharapkan pemanfaatan alsintan dapat optimal dalam mendukung percepatan pengolahan tanah dan penyediaan air irigasi sehingga akan berdampak pada peningkatan produksi dalam kuantitas maupun kualitas secara lebih efektif dan efisien.

Untuk itu dilakukan monitoring dan evaluasi (monev) untuk melihat sejauh mana optimalisasi pemanfaatan alsintan dan efektivitas bantuan yang diberikan sehingga bila terjadi permasalahan dapat diketahui secara langsung dan ditemukan solusi yang tepat. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi alsintan telah dilakukan di Kabupaten Kepulauan Selayar di penghujung bulan Februari. Monev yang dilakukan tim Balitsereal dilaksanakan di beberapa wilayah Kab. Selayar yang tersebar di Benteng, Bontomanai, Bontoharu, bontosikuyu, Pasimassunggu, Pasimassunggu Timur, dan Brigade Kabupaten serta Brigade Kodim. Hasil monev memperlihatkan bahwa traktor roda dua telah digunakan oleh Kelompok Tani namun masih perlu tambahan unit karena jumlah yang masih terbatas di setiap Kelompok Tani, begitupun halnya dengan traktor roda 4. Sementara untuk combine harvester telah digunakan namun belum optimal karena ukuran petak sawah yang kecil dan roda combine sulit berputar di lahan yang basah.

Pemanfaatan alsintan, juga menggunakan Pola Brigade yang dikerjasamakan dengan Kodim setempat, sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan Alsintan secara efektif, sehingga jumlah alsintan yang terbatas, melalui Brigade Alsintan, penggunaan alsintan dapat dioperasikan pada kelompok-kelompok tani secara bergilir dan tertib dibawah pengawalan Babinsa dan Penyuluh lapangan.

Monev alsintan juga dilakukan di Kabupaten Bantaeng yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan, hasil monev memperlihatkan penggunaan traktor roda dua, traktor roda empat dan combine harvester sedang (CHS) telah maksimal, namun di beberapa wilayah terdapat kesulitan, dimana penggunaan CHS tidak sesuai dengan kondisi lahan, bahkan terdapat kehilangan mesin traktor roda dua di wilayah tertentu, sementara untuk penggunaan combine harvester kecil belum digunakan karena tidak sesuai dengan kondisi lahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *